Aspek Keamanan Afrodisiak Sintetis

gambar diambil dari http://www.livetradingnews.com

Sudah sejak lama obat-obatan penambah kekuatan seksual banyak dicari orang, terutama lelaki. Sampai-sampai ada kejadian seorang kakek yang masih berhasrat melakukan hubungan intim, dan sebelum melakukannya dia mengonsumsi obat yang konon “super” khasiatnya. Tetapi nahas, bukan berbuah nikmat tetapi malah menjemput maut.

Saat ini semakin marak obat-obat kuat yang beredar dengan berbagai merek, sebut saja viagra salah satunya. Di sisi lain akibat dari keadaan perekonomian yang tidak stabil membuat orang-orang jadi kehilangan kendali. Pengaruh dari berbagai aktivitas menjadikan pikiran kusut yang konon katanya menurut beberapa psikolog berpengaruh terhadap daya seksual akibat dari pikiran yang tidak tenang itu.

Untuk meningkatkan gairah seksual atau demi membuat harmonis hubungan suami istri seringkali para suami mengonsumsi afrodisiak sintetis alias obat kuat. Efek kerja obat kuat ini memengaruhi kerja jantung sehingga memompa jantung bekerja lebih cepat, mempercepat metabolisme energi dalam tubuh sehingga membuatnya bergairah dalam melakukan hubungan suami istri.

Umumnya obat kuat memanfaatkan golongan obat sildenafil sitrat sebagai kandungan untuk meningkatkan kualitas ereksi. Padahal obat ini memiliki risiko terhadap kesehatan. Sildenafil sitrat adalah salah satu golongan obat keras yang hanya dapat diperoleh dan hanya dapat digunakan atas resep dokter. Oleh karena itu, penggunaannya harus selalu di bawah pengawasan ketat dokter.

Penggunaan tidak tepat atau tidak di bawah pengawasan dokter dapat meningkatkan risiko antara lain gangguan penglihatan, gangguan pencernaan atau dispepsia, muntah, sakit kepala, reaksi hipersensitif, dan priapisme atau mengalami ereksi lebih dari empat jam. Pada penderita dengan riwayat penyakit kardiovaskular dapat meningkatkan risiko kejadian infark miokard.

Obat ini tidak boleh digunakan pada pasien yang sedang dalam terapi nitrat, pasien infark miokard, pasien yang tidak boleh melakukan aktivitas seksual, pasien yang baru mengalami stroke, angina yang tidak stabil, dan tekanan darah di bawah 90/50 mm Hg.

Sildenafil sitrat merupakan senyawa kimia yang bekerja dengan cara meningkatkan kadar siklik guanosin monofosfat, (cGMP) dalam korpus kavernosum secara tidak langsung yaitu melalui penghambatan enzim fosfodiesterase tipe 5 (PDE 5) oleh meningkatnya nitrogen oksida (NO).

Hal ini menimbulkan efek relaksasi otot polos dan dilatasi pembuluh darah yang menyebabkan peningkatan alisan darah ke dalam korpus kavernosum. Efek tersebut dimanfaatkan untuk pasien dengan disfungsi ereksi.

Obat kuat ini bisa dikatakan bersifat memaksa kerja tubuh di luar mekanisme normalnya. Hal tersebut bisa membahayakan pemakainya. Jika tidak kuat, efeknya adalah kematian saat melakukan hubungan seksual seperti kakek tua pada penjelasan awal.

Bagi lelaki, menderita gangguan fungsi seksual bisa dikatakan sebagai mimpi terburuk. Karena itu, beragam jenis obat yang diklaim mampu mengatasi disfungsi seksual ini selalu laku. Padahal, mungkin saja masalah ini muncul karena penderita kekurangan zat gizi.

Mungkin persepsi ini salah, tetapi bagi hampir semua laki-laki kemampuan ereksi merupakan penentu kesuksesan hubungan mereka lebih dari apa pun. Meski bukan satu-satunya, pembuktian kelelakian, menurut mereka adalah ereksi. Tanpa ini, jembatan komunikasi intim dengan pasangan tidak mudah dikoneksikan. Terutama bagi pasangan usia produktif (20-45 tahun).

Bisa jadi karena alasan tersebutlah, kehidupan seksual laki-laki lebih ramai dengan bisik-bisik tentang makanan pembangkit gairah kejantanan. Sejak zaman cina kuno, sup rumput laut dan sup sarang burung terkenal sebagai penggugah gairah bagi laki-laki yang ingin sukses dalam kegiatan intim. Di Indonesia, terkenal anjuran untuk menyantap sate kerang atau minuman yang dicampur kuning telur mentah dengan merica bubuk sebagai pemanas. Pertanyaannya kemudian adalah benarkah makanan-minuman tersebut berkhasiat atau sekadar mitos?

Sebenarnya gangguan ereksi tidak selalu berarti impotensi. Gangguan tersebut bisa juga berarti ereksi yang lemah atau ketidakmampuan mempertahankan ereksi dalam jangka waktu yang lama. Hingga saat ini masih sedikit pakar kesehatan yang memerhatikan keterkaitan antara kurang gizi sebagai penyebab gangguan padamnya api gairah para lelaki. Morton dan Joan Walker dalam bukunya, Sexual Nutrition for Lover’s Diet, berpendapat bahwa gangguan ereksi bisa saja terjadi karena kekurangan gizi.

Oleh karena itu, pendapat bahwa kehidupan seks yang memuaskan bergantung pada konsisi kesehatan seseorang sangat tepat. Untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal tersebut kita perlu mendapatkan asupan gizi yang berkualitas, rutin berolahraga, dan cukup beristirahat.


Satu gagasan untuk “Aspek Keamanan Afrodisiak Sintetis

  1. Ping-balik: tentang makanan afrodisiak « Kuliner, Gizi, dan Kesehatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s