komponen suplemen, ampuhkah?

ini adalah postingan lama. mulanya, ini adalah artikel yang saya tulis dan pernah dimuat di kompas pada selasa 21 september 2004. hehehe … lama  ya. tapi tidak apa. semoga bermanfaat karena artikel ini mengulik tentang fenomena minuman suplemen dan komponen yang dijadikan unggulan suplemen tersebut. selamat membaca.

***

Hasil penelitian oleh mahasiswa di IPB pada tahun 2000an menunjukkan bahwa lebih dari 50 persen penduduk di kota besar mengonsumsi suplemen. Dan tampaknya, konsumsi suplemen dalam berbagai bentuk telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat pekerja di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bogor, Padang, Makassar, dan Banjarmasin (Entos, 2001; Hayati, 2002; Hidayat, 2002; Krisnadi, 2003; Sirajuddin, 2002; Silitonga, 2002; Suistriyanta, 2002; Yanuardhini, 2002; Yunita, 1997).

Membanjirnya produk suplemen di pasaran membuat para produsen minuman berenergi dan suplemen harus jeli dalam menjual produknya dengan menonjolkan keunggulan produk yang membuatnya berbeda dengan kompetitor. Salah satunya adalah dengan berbagai inovasi dalam penambahan komponen untuk meningkatkan fungsionalitas produk suplemen dan minuman berenergi tersebut.

Hal ini penting karena di Indonesia bisnis dan pemasaran produk suplemen, terutama di daerah perkotaan cenderung meningkat pesat. Dalam waktu singkat, suplemen dalam bentuk minuman telah menyerap sekitar 10 persen pangsa pasar minuman dan diyakini memiliki prospek sangat cerah. Rata-rata produksi suplemen 93,2 juta liter per tahun yang terdiri dari dua produsen susu dengan kapasitas 24,2 juta liter per tahun, 14 produsen minuman berenergi dengan kapasitas produksi 10,4 juta liter per tahun, dan tujuh produsen minuman isotonik dengan kapasitas produksi 10,4 juta liter per tahun (Sudarisman, 1997). Selain itu, data registrasi di Badan POM menunjukkan bahwa total suplemen yang terdaftar sejak tahun 1990 hingga tahun 2000 adalah 3.236, di mana 74,28 persen (2.399 produk) adalah produk impor dan 25,86 persen (837 produk) adalah produk lokal.

gambar diambil dari http://www.i-berita.com

 

Menyimak beberapa iklan produk minuman berenergi dan suplemen di televisi, setidaknya ada tiga pendatang baru dalam dunia komponen suplemen di Indonesia. Mereka adalah L-Carnitine, Guaranine, dan L-Glutamine. Hal ini tentu saja ada baik dan buruknya. Baiknya adalah para produsen terus-menerus melakukan inovasi yang berkesinambungan guna memberikan yang terbaik untuk konsumen. Sementara bagi konsumen, banyaknya alternatif membuat konsumen dapat memilih produk suplemen yang sesuai dengan kebutuhannya. Akan tetapi, buruknya adalah jaminan keamanan dan keselamatan bagi konsumen produk suplemen belum terjamin. Hal ini antara lain karena tidak adanya standar khusus bagi penggolongan suplemen. Kondisi tersebut sering disalahgunakan oleh produsen yang cenderung mempromosikan khasiat produknya, baik melalui iklan dan dalam label, secara berlebihan.

L-Carnitine

L-Carnitine pertama kali dipopulerkan di Indonesia dalam susu khusus untuk pria guna membentuk ototnya, salah satu ciri khasnya adalah perut kotak-kotak. L-Carnitine sendiri merupakan satu koenzim yang penting dan memiliki banyak kegunaan, terutama dalam “membakar” lemak. Secara biokimia, L-Carnitine berfungsi memecah partikel lemak yang ada dalam darah agar dapat ditransportasikan ke membran mitokondria. Proses ini dikenal sebagai proses ketogenesis, pembakaran lemak tubuh dalam membran mitokondria, dan L-Carnitine berperan sebagai transporter yang mengantarkan lemak ke dalam membran mitokondria.

Mitokondria merupakan pabrik energi. Membran mitokondria membakar lemak sebagai energi, logikanya jika lemak dalam tubuh kita terbakar, berat badan kita akan menurun. Tambahan aksi metabolik dalam tubuh ini membakar lemak yang tidak berguna dan mengeluarkannya dari dalam tubuh kita. Lemak yang terbakar melalui mekanisme ketogenesis akan menjadi badan keton dan dikeluarkan melalui urine dan feses.

Akan tetapi, mekanisme L-Carnitine akan bekerja dengan baik jika penggunaannya disertai dengan aktivitas fisik yang seimbang karena lemak tidak akan terbakar begitu saja hanya dengan mengonsumsi L-Carnitine yang terdapat dalam suplemen. Pada dasarnya, jarang sekali terjadi kekurangan carnitine pada manusia. Karena carnitine adalah asam amino nonprotein yang dibuat dalam tubuh dari glutamin dan methionin. Kebutuhan carnitine dapat dipenuhi oleh pangan hewani dan nabati.

Guaranine

gambar diambil dari http://www.biorenesance.cz

Meskipun belum seterkenal kafein, tampaknya guaranine mulai banyak diminati dan digunakan karena efeknya yang sama. Di Indonesia telah ada beberapa produk suplemen yang mengandung guaranine.

Guaranine sendiri merupakan komponen aktif yang terdapat dalam guarana (Paullinia cupana), yakni buah berbentuk berry berwarna kemerahan dan banyak ditemukan di lembah Amazon, Brasil. Bagian yang digunakan dari guarana adalah biji dan buahnya sebagaimana cokelat dan kopi. Guarana memiliki kandungan kafein tujuh kali lebih banyak daripada kafein pada biji kopi.

Selain memiliki efek sebagai stimulan, guarana juga dipercaya memiliki khasiat analgesik, anti-amnesik, antibakterial, antikoagulan, anti-obesitas, anti-oksidan, aphrodisiak, astringen, kardiotonik, diuretik, hiperglikemik, stimulan, tonik, meningkatkan kecepatan dan daya tahan, meningkatkan konsentrasi dan memori, serta mencegah senilitas (senility) dan vasodilator. Akan tetapi, dosis yang tinggi dapat menyebabkan stres pada jantung dan kepanikan yang serupa dengan efek kafein.

Studi toksikologis yang pernah dilakukan membuktikan bahwa senyawa ini tidak memiliki efek nontoksik, intinya sama dengan kafein. Klaim kesehatan dalam kaitannya dengan guaranine yang dipromosikan oleh produsen biasanya berkaitan dengan komposisi produk suplemen tersebut.

L-Glutamine

L-Glutamine sebagai nutrisi sel dan membantu metabolisme sel, itulah salah satu bunyi iklan produk suplemen. L-Glutamine sebenarnya bukan barang baru di pasaran suplemen. Di luar negeri, penggunaan L-Glutamine (bentuk aktif glutamin yang biasa digunakan) sudah dapat dikatakan sangat populer. Sementara di Indonesia, penggunaan L- Glutamine tampaknya masih terbatas.

Glutamin termasuk kelompok asam amino non-esensial pada manusia yang sehat (kalau sakit jadi esensial). Pada otot rangka, glutamin terdiri dari 60 persen (19,5 mmol/cairan intraseluler) dari total asam amino bebas yang terdapat dalam tubuh. Meskipun glutamin merupakan asam amino non- esensial, tetapi status non- esensial glutamin dapat berubah menjadi esensial pada keadaan katabolik, misalnya pada saat sakit.

Pada otot rangka, suplementasi glutamin dapat meningkatkan sintesis protein yang secara langsung proporsional dan konsentrasi glutamin dalam sel. Dalam keadaan katabolik, sintesis protein dan konsentrasi glutamin menurun dalam otot via induksi stres (latihan fisik) meningkatkan pengeluaran glutamin dari sel.

Glutamin dikenal sebagai asam amino pembawa nitrogen yang paling mudah diserap vili mukosa usus dan dikenal sebagai asam amino kondisional yang berfungsi sebagai prekursor sintesis nukleotida, substrat untuk pembentukan glikogen, dan sangat vital dalam mengatur asam basa ginjal. Glutamin amat penting sebagai sumber energi sel yang membutuhkan ATP siap pakai, baik untuk keperluan epitel saluran cerna, limfosit, fibroblast, maupun retikulosit.

Glutamin merupakan asam amino yang banyak terdapat dalam makanan dan asam amino yang banyak terdapat dalam darah. Glutamin juga penting untuk replikasi dari seluruh tubuh sel untuk digunakan dalam sintesis purin, pirimidin, dan nukleotida. Pada individu yang sehat, glutamin adalah asam amino yang non-esensial. Jika makanan gagal memenuhi kebutuhan glutamin, tubuh akan menyintesis glutamin dari asam amino bercabang pada otot.

Glutamin ini telah banyak dilakukan uji keamanan dan efikasinya. Salah satunya adalah hasil review berbagai penelitian yang dilakukan oleh Peter J Garlick (2001) yang mengkaji aspek keamanan penggunaan glutamin, baik secara enteral-parenteral maupun dalam suplementasi. Berdasarkan kajian yang dilakukan pada empat penelitian mengenai aspek keamanan glutamin, Peter J Garlick (2001) menyimpulkan bahwa tidak terdapat efek yang merugikan atau berbahaya dari glutamin sampai dosis 50-60 gram per hari pada pasien yang terbaring di rumah sakit. Akan tetapi, hal ini belum dapat dijadikan rujukan bahwa glutamin juga dianggap aman untuk dijadikan suplemen dan digunakan pada dosis yang kronis untuk individu sehat.

Meski demikian, ada hal-hal lain yang perlu diperhatikan selain hal yang menguntungkan karena glutamin merupakan asam amino antara, maka terdapat kemungkinan modifikasi dari metabolisme intermediet glutamin ini potensial untuk memungkinkan berkembangnya penyakit metabolik, seperti penyakit diabetes dan jantung koroner. Selain itu, yang dikhawatirkan dari glutamin adalah karena glutamin dimetabolisme menjadi glutamat dan amonia, di mana keduanya memiliki efek neurologis. Jadi, penilaian aspek keamanan dan uji fisiologis dan perilaku mungkin diperlukan.

Kompas, Selasa, 21 September 2004

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0409/21/ilpeng/1275937.htm

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s