Tak Sengaja Menjadi Penerjemah

Postingan ini dituliskan untuk memenuhi permintaan blogger favorit, sekaligus inspirator saya, Mbak Rinurbad. Hehehe.. semoga berkenan, ya, Mbak.🙂

Awalnya menjadi penerjemah … hmmm … dulu, sih, pas kuliah di IPB. Dalam rangka menambah-nambah uang jajan. Kalau ada teman minta diterjemahkan tugas jurnalnya, hehehe, saya menerima dengan senang hati, jujur, saya menerimanya supaya saya bisa dapat tambahan uang untuk fotokopi buku teks, yang kalau beli aslinya, entah kapan bisa kebelinya, bonusnya saya jadi tambah ilmu karena menerjemahkan jurnal teman.🙂

Sedikit nostalgia, hehehe, dahulu, ketika berkuliah di Gizi Masyarakat IPB, saya jadi mengenal Prof. Ali Khomsan. Beliau inilah yang menginspirasi saya untuk menulis. Beberapa tulisan saya, dahulu, sempat dimuat di media nasional, bahkan menembus Kompas. Prestasi tersendiri buat saya ketika itu, bahkan sampai sekarang. Karena, sekarang belum pernah tembus lagi, karena mengirim juga tidak. Hahaha ….

Nah, dari sana, saya terpikir, untuk menjadi editor di penerbitan buku. Mengapa? Karena nama saya akan bersanding dengan penulis-penulis favorit saya (harapannya ketika itu, meskipun pada kenyataannya tidak seberuntung itu, :D). Selanjutnya ketika masih di IPB juga, saya bertemu dengan buku Nutrition: Concept and Controversies. Buku teks tentang ilmu gizi yang paling komprehensif dan bagus menurut saya. Saya suka sekali buku itu dan sampai sekarang masih bercita-cita untuk menjadi penerjemah buku itu. Dan berharap juga semoga sayalah yang menjadi penerjemahnya, dan bukan orang lain. Sedekat yang saya tahu, buku itu belum diterjemahkan ke bahasa Indonesia hingga sekarang.

Sebenarnya, kesempatan menjadi penerjemah buku betulan, baru datang pada pertengahan tahun 2010. Itu juga lebih ke arah faktor ketidaksengajaan.  Saya, ketika itu diajak bercakap-cakap via ym oleh salah satu rekan editor yang bekerja di salah satu penerbit di Solo. Beliau sedang mencari penerjemah, saya coba-cobalah menawarkan diri. Saya dites untuk menerjemah, saya menerjemahkannya sebaik yang saya bisa, saya kirimkan, dan Alhamdulillah, saya jadi menerjemahkan buku itu. Itu adalah kali pertama secara resmi saya menerjemahkan buku tentang gizi. Dan saya pun dipercaya lagi menerjemahkan 5 seri buku itu lagi.

Jadi, total ada 6 seri buku yang saya terjemahkan. Karena itulah, saya jadi terinspirasi untuk menuliskan pengalaman, kutipan, tips, resep, atau catatan-catatan penerjemahannya dalam blog ini. meskipun pada perkembangan selanjutnya, acapkali inspirasi dari buku tersebut saya perkaya lagi untuk postingan di blog.

Menurut saya, dalam menerjemahkan buku dengan tema spesifik, termasuk gizi, kesehatan, kuliner, sebaiknya memang punya pengetahuan tentang bidang yang akan diterjemahkan, jika pernah menempuh pendidikannya akan lebih baik. Meskipun begitu, jika tidak pun, menurut saya tidak apa-apa, yang penting pun mau meriset, bisa dari buku, internet, acara masak, dan acara-acara lainnya. Mengapa? Menurut saya, ini adalah ilmu terapan dan secara ringkas diharapkan semua orang bisa mengerti ketika membacanya. Adapun untuk kajian yang lebih mendalam pastinya itu akan masuk jurnal ilmiah. Dan penjelasan teknisnya pasti lebih ribet lagi. Jika ada akses ke jurnal-jurnal internasional akan lebih baik lagi untuk memperkaya informasi terbaru tentang topik tertentu misalnya.

Kalau ilmu menerjemah, jujur, saya masih cetek sekali. Masih harus banyaaaak belajar baik dari segi rasa bahasa, kosakata, dan banyak lagi … karena itu saya rajin sekali berkunjung ke blog-blog sesepuh penerjemah (setidaknya menurut versi saya) karena itu, saya ingin mencoba lagi untuk menerjemahkan berbagai tema/genre, tidak terpatok pada satu tema tentang gizi atau kesehatan saja. Mengapa? Karena dengan pengalaman menerjemahkan berbagai buku, akan lebih mengasah rasa bahasa dan kosakata.

Sampai sekarang, saya masih melamar-lamar menjadi penerjemah di beberapa penerbit. Meskipun sampai sekarang belum ada kabar baik, tapi saya tidak menyerah. Saya mau coba ikut sarannya mbak Selviya, mencoba mengetuk ke penerbit-penerbit via email, jika pun tidak menerjemahkan, paling tidak mengeditnya.🙂. Hehehe… amin.

untuk pengalaman penerjemah lain, silakan kunjungi link-link berikut ya

  1. Mbak Femmy
  2. Mbak Rinubad di link ini
  3. Mbak Selviya
  4. Mbak Dina
  5. Mbak Lulu

salam kumis,

Kepala diikat dan tiba-tiba muncul kumis, awas … singa mati sudah menanti🙂


6 thoughts on “Tak Sengaja Menjadi Penerjemah

  1. hohoho kumisnya… jadi mirip Pak Raden…
    Hehehe… dulu kalo kuliah aku jalan lewat Fakultas Gizi Masyarakat ke UPT perpustakaan.. Tapi mungkin aku udah lulus kapan tau, dirimu baru TPB😀
    Menarik sekali baca pengalaman bagaimana cara menjadi penerjemah. Semoga jadi inspirasi bagi orang-orang yang tertarik.

  2. Waah,.. makasih sudah ditautkan di sini🙂 Salam kenal ya Mbak, asyik banget deh baca artikel ini. Dan keren sekali, punya spesialisasi di buku-buku kesehatan, dibandingkan saya yang random ini, haha. Oh ya, gambar penutupnya epic! Like this!😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s